Jangan Biarkan Lagi Makananmu Bersisa dan Menjadi Sampah

Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan


Apa Itu Sampah?

Sampah secara etimologi menurut KBBI artinya adalah barang atau benda yang dibuang karena sudah tidak terpakai lagi, kotoran seperti kertas, daun dan lain-lain. Sampah juga secara umum dibedakan atas tiga klasifikasi, yaitu sampah organik, sampah anorganik dan sampah bahan berbahaya.

Jenis Sampah

Yang pertama sampah organik, adalah sampah yang berasal dari unsur-unsur makhluk hidup dan tumbuhan. Contohnya adalah seperti tangkai atau ranting pohon yang berjatuhan, daun batang atau akar tanaman yang sudah tidak bisa dikonsumsi lagi kemudian dibuang atau juga food waste (sisa makanan) yang terbuang baik itu bahan makanan saat memasak atau makanan itu sendiri.

Kemudian ada sampah anorganik, adalah sampah yang berasal dari benda-benda mati yang sudah tidak dipakai lagi dan dibuang. Contoh dari sampah anorganik ini adalah seperti kertas bekas yang sudah dibuang, alat-alat rumah tangga yang sudah rusak dan dibuang atau juga barang-barang sisa pembuatan suatu produk.

Yang terakhir adalah sampah bahan berbahaya yang biasa juga disebut sampah B3 atau limbah B3. Disebut B3 karena itu adalah singkatan dari bahan beracun dan berbahaya. Sampah jenis ini mengandung  zat yang beracun dan berbahaya sehingga bisa mengganggu kesehatan, merusak lingkungan dan mengancam kelangsungan hidup manusia atau makhluk lainnya. Contoh dari sampah B3 ini seperti sisa parfum, deterjen atau pemutih yang dihasilkan rumah tangga, artinya sampah ini tidak hanya diproduksi oleh industri saja.

Pemilahan Sampah
Ilustrasi Pemilahan Sampah

Di tempat-tempat umum juga sudah disediakan tempat sampah untuk membedakan dan memilah sampah-sampah tadi. Biasanya ditandai dengan perbedaan warna dari tempat sampahnya, hijau untuk sampah organik, kuning untuk sampah anorganik dan merah untuk sampah atau limbah B3.

Sampah di Indonesia

Permasalahan sampah di Indonesia sendiri sudah menjadi makanan sehari-hari terutama di kota-kota besar. Semakin besar dan maju kota di Indonesia pastinya semakin banyak jumlah penduduknya dan akan menghasilkan sampah yang semakin banyak pula. Dikutip dari situs tirto.id, Survey Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 mendapatkan data bahwa kota-kota besar di Indonesia menghasilkan sampah organik yang jumlahnya lebih banyak ketimbang sampah jenis lainnya.

Sebagai contoh saja, di Jakarta didapat data sampah sebanyak 3.639,8 ton sampah organik dihasilkan setiap harinya, 499,84 ton lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan sampah anorganik yang jumlahnya 3.193,96 ton per hari. Tren ini juga didapati di kota besar lain seperti Medan, di mana sampah organik yang dihasilkan 560,7 ton lebih banyak ketimbang jenis sampah lainnya. Data ini sangat bertabrakan dengan masih adanya angka kemiskinan di negara kita, di satu sisi di kota-kota besar sampah pangan begitu banyak sementara di sisi lain masih banyak masyarakat Indonesia yang masih mengalami kekurangan gizi.

Fakta Sampah di Indonesia
Fakta Sampah di Indonesia

Faktanya, sampah makanan di Indonesia bisa mencapai 13 juta ton per tahunnya, menurut Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO). Jumlah sampah pangan yang segitu banyaknya jika bisa dikelola dengan baik justru dapat dinikmati oleh 28 juta orang dan angka ini menurut BPS mirip dengan angka kemiskinan di Indonesia. Di dunia, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar setelah Arab Saudi. Porsi terbesar tentu disumbangkan oleh ibukota negara Indonesia, Jakarta, yang mencapai 7.500 ton sampah setiap harinya dan diprediksi di tahun 2025 akan menyentuh angka 9.000 ton sampah setiap hari. Dan fakta unik lainnya sampah-sampah Indonesia jika dikonversikan ke uang maka setara dengan 27 triliun rupiah, angka yang sangat besar.

Dampak Sampah

Dampak paling besar dari sampah sudah pasti adalah lingkungan. Pencemaran akan terjadi di mana-mana ntah itu air, tanah atau udara. Secara tidak langsung juga sampah menyebabkan berkurangnya pasokan air bersih karena semua proses dalam membuat makanan tentu menggunakan  air bersih. Sehingga jika banyak makanan yang terbuang makan banyak juga pasokan air bersih yang sudah terbuang percuma.

Dampak Sampah Terhadap Lingkungan
Dampak Sampah terhadap Lingkungan

Selain itu juga sampah dapat menghabiskan sumber minyak bumi, secara tidak langsung. Hampir mirip dengan poin sebelumnya karena seluruh proses pembuatan makanan tentu membutuhkan minyak bumi mulai dari proses memasaknya, distribusi makanannya, pengolahan bahan pangannya hingga proses penyimpanan makanannya.

Lahan juga akan semakin sempit jika sampah tidak dikelola dengan baik dan lama-lama menumpuk. Tanah akan tercemar dengan kandungan sampah yang bersentuhan langsung dengan tanah dan juga bisa membahayakan ekosistem di lingkungan sekitarnya. Hewan-hewan dan tumbuhan di sekitarnya akan mengalami gangguan nutrisi, tidak hanya hewan dan tumbuhan tapi ini juga bisa mengancam kehidupan manusia.

Budayakan Gaya Hidup Bebas Sampah Makanan

Banyak hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi jumlah sampah makanan di lingkungan kita dan membuat hidup kita bebas sampah makanan. Tidak usah jauh-jauh berpikir untuk kelangsungan hidup orang banyak dulu, kita bisa memulainya dari hal-hal kecil di rumah dan di tengah keluarga kita sendiri.

Upaya Bebas Sampah Makanan
Upaya-upaya Mengurangi Sampah Makanan

Kita mulai dari belanja. Saat belanja kita bisa membuat daftar belanja terlebih dahulu sehingga kita tidak akan lapar mata yang membuat kita membeli barang atau bahan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Jumlah belanjaan juga harus kita perhatikan, sebaiknya dihitung untuk kebutuhan berapa lama apakah sehari seminggu atau sebulan. Rentang waktu yang digunakan sebenarnya semakin pendek semakin baik sehingga bahan makanan semua masih fresh dan tentunya bisa dikonsumsi dengan perkiraan waktu yang tepat.

Setelah belanja kita mengolah bahan makanan menjadi hidangan, apapun itu. Sebaiknya kita menghitung jumlah yang pas seperti menghitung jumlah orang yang akan mengkonsumsi dan juga untuk berapa lama makanan ini dihidangkan. Dengan begitu, akan sangat mengurangi jumlah makanan sisa yang akhirnya akan dibuang dan menjadi sampah makanan.

Saat makan juga kita perlu menghitung. Ambillah secukupnya atau cara paling aman adalah ambil sedikit saja (jika kita tidak tahu porsi makan kita), jika masih merasa kurang kita masih bisa menambah makanan. Lebih baik kurang karena bisa menambah makanan lagi daripada kebanyakan yang ujung-ujungnya makanan dibuang.

Di tempat umum juga sama halnya, di tempat-tempat makan seperti restoran yang menyediakan menu all-you-can-eat, banyak pelanggan yang merasa tidak mau rugi atau lapar mata di awal sehingga mengambil makanan seenaknya. Tapi setelah dimakan lama kelamaan tidak sanggup menghabiskan dan menyisakan makanan. Pihak restoran juga biasanya memberikan peringatan agar membayar denda jika makanannya tidak dihabiskan. Cara ini sangat baik sehingga menyadarkan kita untuk tidak membuang-buang makanan.

Kesimpulan

Banyaknya sampah bukan hanya persoalan yang harus diselesaikan pemerintah tapi ini merupakan masalah kita semua. Sampah makanan sebagai penyumbang terbesar justru berasal dari sampah rumah tangga dan kita sendirilah yang bisa mengelola dan menguranginya. Dengan menjalankan langkah-langkah bijak kita dapat mengurangi sampah makanan dan mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan. Dengan begitu juga kita bisa lebih menghargai orang lain, karena di sisi kehidupan lain masih banyak orang-orang yang justru mencari makanan dengan susah payah. Kita sebagai orang yang masih diberi kesempatan menikmati makanan harusnya tidak membuangnya sia-sia. Semoga tulisan ini bisa mengingatkan teman-teman semua termasuk saya sendiri untuk lebih menghargai makanan dan membiasakan diri dengan gaya hidup bebas sampah makanan.

Referensi :
https://www.dbs.com/spark/index/id_id/site/articles/livemorekind/2020-fakta-sampah-makanan-setara-dengan-27-triliun-rupiah.html
https://tirto.id/darurat-sampah-makanan-di-indonesia-f3Yn
https://www.kompas.com/food/read/2020/10/23/103917375/3-cara-cegah-sampah-pangan-dan-limbah-makanan-dimulai-dari-piring-sendiri?page=all
https://www.popmama.com/life/health/sittah-husnul-khotimah/dampak-buruk-sampah-makanan-terhadap-lingkungan/5

10 Komentar

  1. peer kita ini sampah plastik yang susah terurai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu permasalahan terbesar juga memang sampah plastik, sudah banyak upaya2 untuk menguranginya

      Hapus
  2. Selama ini mau makan di resto all u can eat mikirnya lama. Karena emang kalo makan cuma dikit tapi bayarnya tetap sama. Kalo mau ambil banyak juga sayang nanti kebuang, jadi mending nggak usah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih baik kurang daripada lebih mbak, bisa nambah lagi. Mama saya juga pernah bilang dulu, sebetulnya makanan yang paling enak adalah makanan yang sedikit

      Hapus
  3. Saya suka merasa bersalah kalau urusan diapers anak, berasa ikut mengotori bumi karena sampah diapers. Tapi kalau pakai popok kain capek juga sih cucian jadi banyak dan tentu saja ini berkaitan juga dengan pemakaian detergen. Belum lagi sampah rumah tangga lainnya. Duh :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diapers memang banyak banget sih nbak ya, tapi memang paling praktis ya itu ya. Tapi kalau tidak salah diapers bisa didaur ulang walaupun prosesnya lama

      Hapus
  4. Sampah makanan ini juga bikin pusing mas, apalagi kalau ada acara keluarga. Sudah susah dan capek masak, harus nambah porsi lagi karena ada tamu yang gak kebagian, tapi begitu mau bersihkan piring malah lihat makanan masih banyak bersisa di piring makan. Bukan karena masakan gak enak, tapi karena si tamu ambil makanan gak kira2. Itulah saya selalu mengingatkan anak saya supaya ambil makan secukupnya, kalau kurang bisa ditambah lagi. Kasih pengertian bahwa di luar sana ada banyak orang yang kelaparan, jadi yang berkecukupan gak boleh seenaknya buang makanan begitu saja dan jadi mubadzir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama seperti nasehat mama saya sejak kecil dulu, "jangan buang-buang makanan loh, masih banyak orang yang gak bias makan." Sampai sekarang saya selalu mengambil porsi makanan secukupnya.

      Hapus
  5. Masalah makanan yang terbuang ini memang menjadi perhatian di seluruh dunia. Kalau tidak salah baca, 33% makanan di dunia berujung di tong sampah karena tidak termakan. Oleh karena itu banyak pihak terus berusaha mendorong perbaikan dalam hal ini.

    Selain karena mubazir, sampah sisa makanan ini jadi ikut berperan dalam menyumbang gas rumah kaca yang berbahaya bagi atmosfer dan ikut berkontribusi pada pemanasan global. Namanya gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan.

    Oleh karena itulah, sisa makanan sendiri sebaiknya dikurangi karena selain sudah mubazir juga berbahaya bagi lingkungan

    Begitu yang saya baca sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, harus bijak untuk mengambil porsinya masing-masing, secukupnya.

      Hapus

Posting Komentar

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama